Guyang dan Kenangan Baik dari Ayah

Filsafat Sesat?



Pada suatu hari, di beberapa tahun silam, tiba-tiba seorang dosen mendatangi saya. Sebut saja Bu Lisa (bukan nama sebenarnya). Jadi, ceritanya Bu Lisa mengajak saya untuk ngobrol, kemudian diskusi tentang buku yang saat itu sedang saya baca.

Saya lalu bertanya, "Bu, punya buku filsafat?"

"Ada, di rumah.” Jawab Bu Lisa.

"Nanti Sholah pinjam, ya, Bu."

"Iya, boleh. Tapi jangan jauh-jauh belajar filsafat, mah. Ketika ada orang lain yang membenci Sholah, ketika ada orang lain yang membicarakan hal negatif tentang Sholah, Sholah nggak perlu membalas dengan hal negatif serupa. Cukup Sholah cari tahu hal apa yang membuat orang lain benci kepada kita. Cukup cari tahu kenapa orang lain ngomongin kita. Lalu kita perbaiki kekurangan itu. Ini juga merupakan pembelajaran dari filsafat." Bu Lisa menjelaskan kepada saya.

"itu filsafat, ya, Bu?" saya tentu penasaran.

"Jelas filsafat, dong. Emang Sholah pikir filsafat itu macam mana?"

"Pernah dengar aja sih, Bu. Katanya belajar filsafat itu bisa bikin sesat, bisa bikin jauh dari Tuhan. Bahkan sampai bisa tidak mempercayai-Nya. Makanya Sholah tertarik baca buku filsafat, mau tahu aja. Bener gak sih, bisa bikin sesat?"

"Ah ngaco ...! Nanti kalo Sholah udah nyusun skripsi. Nah, itu juga bagian dari berfilsafat. Menulis karya tulis ilmiah juga bagian dari filsafat ilmu."

"Ooooohhh...." saya manggut-manggut sedikit tak memehami, "Berarti filsafat nggak bikin sesat, Bu?"

"Tergantung orangnya juga sih, Lah. kadang berfilsafat juga malah bisa menambah kualitas keagamaan kita."

***

Kurang lebih seperti itu percakapan kami.
Beberapa minggu lalu saya mendapat rekomendasi buku dari podcast "Kepo Buku". Judul bukunya "Filosofi Teras". Katanya sih, membahas tentang filsafat yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari—dalam hal mengontrol emosi negatif.

Pas saya baca bukunya, lalu saya teringat pada guru saya yang tadi diceritakan. Oh, ternyata filsafat yang pernah guru saya ajarkan adalah filsafat beraliran "STOISISME". Atau filsafat yang diterapkan oleh kaum stoa. Dan atau disebut "Filosofi Teras" karena ......... Baca aja ya, bukunya. 😅

Simpelnya sih, tidak berburuk sangka pada orang yang telah berburuk sangka pada kita, itu juga bagian dari berfilsafat. Jadi berfilsafat itu, simpel. Bahkan pada praktiknya juga diajarkan oleh agama.

-
October 7, 2019

Komentar