Guyang dan Kenangan Baik dari Ayah

Boikot Film ini Sekarang Juga!



Alfilm …, ceritanya ada film yang sedang tayang di bioskop. Saya tidak perlu menceritakan judul filmnya. Biarlah, barangkali kedepannya ada gerakan yang sama. Gerakan menolak film oleh oknum tertentu.

Oknum ini memang sering kali menyuarakan penolakan. Tapi ya gitu, Cuma nolak saja bisanya, nggak bisa menyodorkan solusi yang nyata. Maksudnya, menolak tapi tidak menghasilkan karya yang lebih solutif.

Film ini mereka tolak dengan alasan—katanya mengandung unsur pelukan dan ciuman. Nah, ini yang melandasi otak mereka berfikir. Katanya bukan mahrom, kholwat dan menimbulkan syahwat.

Memang sih benar, saya percaya itu benar. Namun jika dinilai dengan sepihak, dengan satu kacamata saja. Jadinya terdengar ngawur.

Tapi?

Kenapa baru sekarang menolaknya. Dan kenapa hanya film itu saja yang ditolak?

Padahal, banyak film di Bioskop yang menampilkan adegan ciuman dan pelukan. Tapi nggak ada gerakan pemboikotan, tuh? Jangan-jangan yang memboikot film ini nggak pernah nonton ke bioskop? Tanda tanya!

Juga, sinetron dan ftv ada yang menampilkan adegan peluk-pelukan. Pada hal ini, di mana suara mereka? Ini di TV loh, ditonton banyak umat masyarakat.

Dulu saya pernah bahas, pada setiap "gerakan pelarangan" selalu ada “titik balik”. Semakin di larang, maka titik baliknya semakin banyak yang penasaran ingin melanggar.

Pada film …, semakin diboikot, semakin penasaran. Hasilnya? semakin besar arus penonton!

Ah nggak usah jauh. Saya awalnya tidak tau tentang film ini. Karena banyak seliweran pemboikotan, saya jadi penasaran dong. Karena penasaran, hasilnya? Jadi ingin nonton filmnya.

Lagi pula Bioskop itu pasarnya orang-orang menengah ke atas (secara pandangan saya pribadi ya). Bagi menengah ke bawah, atau setingkat pelajar SMP dan santri jarang loh yang sengaja nonton di bioskop. Apalagi masyarakat yang tinggal di perdesaan. Jauh dari bioskop cuy!

Pasarnya nggak seluas TV atuh bioskop mah. Eh, ini untuk film lokal ya.

Lalu gerakan boikot itu untuk siapa? Dan untuk apa?

Ah yang pasti mereka sudah tersulut "teori marketing".

Ikut serta menpromosikan film tersebut—secara tidak langsung. Tapi nggak sadar, kan? Bahwa gerakan pemboikotan film sama dengan gerakan mempromosikan film itu sendiri.

Ah iya, kalo mereka bercermin ke Rasul. Ketika Rasul memboikot pemikiran jahiliah dahulu kala, beliau menyodorkan pemikiran baru yang lebih cemerlang, yang lebih bagus.

Nah, ini. Memboikot film. Sudahkah dengan disertai menyodorkan tontonan yang lebih baik?

Tapi, nggak musti begitu sih cara berfikirnya.

Terserah mereka aja, ah.

-
September 17, 2019

Komentar