- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Alfilm …, ceritanya ada film yang sedang tayang di
bioskop. Saya tidak perlu menceritakan judul filmnya. Biarlah, barangkali
kedepannya ada gerakan yang sama. Gerakan menolak film oleh oknum tertentu.
Oknum ini memang sering kali menyuarakan penolakan. Tapi ya
gitu, Cuma nolak saja bisanya, nggak bisa menyodorkan solusi yang nyata.
Maksudnya, menolak tapi tidak menghasilkan karya yang lebih solutif.
Film ini mereka tolak dengan alasan—katanya mengandung unsur
pelukan dan ciuman. Nah, ini yang melandasi otak mereka berfikir. Katanya bukan
mahrom, kholwat dan menimbulkan syahwat.
Memang sih benar, saya percaya itu benar. Namun jika dinilai
dengan sepihak, dengan satu kacamata saja. Jadinya terdengar ngawur.
Tapi?
Kenapa baru sekarang menolaknya. Dan kenapa hanya film itu
saja yang ditolak?
Padahal, banyak film di Bioskop yang menampilkan adegan
ciuman dan pelukan. Tapi nggak ada gerakan pemboikotan, tuh? Jangan-jangan yang
memboikot film ini nggak pernah nonton ke bioskop? Tanda tanya!
Juga, sinetron dan ftv ada yang menampilkan adegan peluk-pelukan.
Pada hal ini, di mana suara mereka? Ini di TV loh, ditonton banyak umat
masyarakat.
Dulu saya pernah bahas, pada setiap "gerakan
pelarangan" selalu ada “titik balik”. Semakin di larang, maka
titik baliknya semakin banyak yang penasaran ingin melanggar.
Pada film …, semakin diboikot, semakin penasaran. Hasilnya? semakin
besar arus penonton!
Ah nggak usah jauh. Saya awalnya tidak tau tentang film ini.
Karena banyak seliweran pemboikotan, saya jadi penasaran dong. Karena
penasaran, hasilnya? Jadi ingin nonton filmnya.
Lagi pula Bioskop itu pasarnya orang-orang menengah ke atas
(secara pandangan saya pribadi ya). Bagi menengah ke bawah, atau setingkat
pelajar SMP dan santri jarang loh yang sengaja nonton di bioskop. Apalagi
masyarakat yang tinggal di perdesaan. Jauh dari bioskop cuy!
Pasarnya nggak seluas TV atuh bioskop mah. Eh, ini
untuk film lokal ya.
Lalu gerakan boikot itu untuk siapa? Dan untuk apa?
Ah yang pasti mereka sudah tersulut "teori
marketing".
Ikut serta menpromosikan film tersebut—secara tidak
langsung. Tapi nggak sadar, kan? Bahwa gerakan pemboikotan film sama dengan gerakan
mempromosikan film itu sendiri.
Ah iya, kalo mereka bercermin ke Rasul. Ketika Rasul
memboikot pemikiran jahiliah dahulu kala, beliau menyodorkan pemikiran baru
yang lebih cemerlang, yang lebih bagus.
Nah, ini. Memboikot film. Sudahkah dengan disertai menyodorkan
tontonan yang lebih baik?
Tapi, nggak musti begitu sih cara berfikirnya.
Terserah mereka aja, ah.
-
September 17, 2019
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar
Komentar anda sangatlah berarti bagi kami, silahkan berkomentar dengan bijak dan sopan. Komentar dengan mencantumkan Link aktif akan kami hapus.